Belajar Mengadu Hanya Pada-Nya

Matahari turun perlahan, teriknya sudah jinak tak lagi membakar kepala.

Sementara panas di kening putriku tak kunjung mereda. Cahaya matanya padam oleh demam, hanya meringkuk dalam pelukanku yang diselimuti kecemasan. 

Tiba-tiba, ia mengangkat kedua tangan, dengan suara parau dan perlafalan yang belum jelas, ia mengaduh pelan,

“Ya Allah, Ayes sakit......”

Hatiku terenyuh dibuatnya, sebuah curahan seorang anak yang baru saja menginjak dua tahun kehidupannya, mengadu manja kepada Rabb-Nya.



Lega rasanya, karena yang pertama ia panggil untuk berkeluh kesah adalah Sang Maha, yang sejatinya selalu menjaga di setiap detik kehidupannya. Sementara diriku kerap lengah dan tak berdaya.

Terima kasih, Nak, telah mengingatkan untuk terus berlatih mengadu kepada-Nya.

Ya, berlatih! Nyatanya menggantungkan diri “hanya” kepada-Nya tidak mudah.

Mungkin prosesnya perlu perubahan bahkan pengorbannya yang memaksa kita keluar dari zona nyaman.

Tak ada daya dan kekuatan kecuali atas kehendak-Nya.

Posting Komentar

0 Komentar