Pesan Cinta Sang Sutradara (Refleksi Banjir Sumetera)




Setiap Peristiwa adalah pesan Sang Sutradara

Termasuk musibah yang melanda saudara kita di Sumatera

Tak bisa dinafikan,

Logika kapitalisme membangunkan berhala keserakahan

Kegagalan penguasa memahami peran

Menjadikannya terperangkap dalam lingkaran setan yang menyesatkan dan membawa kerusakan

Pengetahuan tidak lagi melahirkan kejernihan akal dan qalb,

karena ditunggangi hawa nafsu dalam pengambilan keputusan yang akal-akalan,

Pohon Sawit di lahan berjuta-juta hektar itu tidak akan sama dengan ekosistem hutan yang menopang kehidupan.

 

Tapi, lagi, bencana adalah pesan cinta-Nya,

Dia mengirimnya begitu intim untuk setiap jiwa hamba-Nya.

bukan hanya untuk mereka, tapi untuk kita!

Dengan antroposentris-nya, manusia merasa

bisa menguasai bahkan dengan jumawanya bisa "menyelamatkan" alam,

padahal kita adalah bagian kecil dari semesta-Nya.

Dianugerahkan-Nya akal,

bukan hanya kita diistimewakan-Nya.

Justru karena tanggung jawab untuk mengasuh alam yang sudah ditundukkan-Nya.

Bukan malah membuatnya menderita,

dengan merusak keseimbangan semesta.

Sehingga membuatnya "tantrum" melalui

berbagai bencana,

sebagai upaya untuk kembali pada sunatullah

yang ditetapkan-Nya.


Pesan itu untuk kita,

Bukankah produk sawit selama ini menjajah rumah kita?

Bukan hanya minyak goreng, margarin dan berbagai cemilan ultra proses yang kita konsumsi bebahan baku kelapa sawit yang menguasai dapur kita.

Tapi, sabun, sampo, produk perawatan kulit sampai produk kecantikan, semua berbahan baku yang sama.

Bukankah kita juga terlibat dalam melanggengkannya?

Berkonsumsi tanpa "kesadaran" dan menjadikannya sebagai kebutuhan utama dalam ceklis bulanan

Hanya karena "termakan" iklan yang penuh dengan kepentingan

Tanpa mempertanyakan apakah semua itu benar-benar kita butuhkan?


Padahal kita beridentitas "manusia" karena diberikan akal dan qalb,

untuk bisa menjalani hidup dengan kesadaran,

sehingga setiap keputusan

dari tindakan kita,

jika tidak mampu memberikan kebermanfaatan,

setidaknya,tidak merugikan diri dan alam yang kita huni.


refleksi

nazlacarita

1/12/25

Posting Komentar

0 Komentar